BATARA KALA & KALI
Seni

BATARA KALA & KALI

29. BATARA KALA & KALI

Batara  Kala, putera keenam Batara Guru, lahir dari kama yang salah Batara Guru, silakan lihat miniseri 18.

Kama Batara Guru yang jatuh ke laut menyala membara lama kelamaan menjadi besar hingga menjilat angkasa menimbulkan goro-goro. Batara Guru memberi perintah untuk menyelidiki.

Setelah diketahui segera semua dewa diperintah menyerang dengan berbagai pusaka namun malah nyala api makin membesar. Ketika didiamkan karena kehabisan senjata malah apinya makin mengecil dan tampaklah sesosok raksasa menakutkan menggenggam beraneka senjata yang tadi dilempar para dewa.

  • Batara Kala
  • Relief Betara Kala
  • Betara Kala
  • Batari Kali/ Durga
  • Batari Kali/Durga
  • Relief Batari Kali/Durga
  • Batari Kali/Durga

Raksasa itu kemudian mengejar para dewa yang berlindung di belakang Batara Guru, setelah tahu yang di hadapannya adalah SH Jagadnata, raksasa itu bertanya siapa dirinya dan anak siapakah dia.

Batara Guru mau memberi tahu asal raksasa mau mengabdi padanya. Raksasa itupun bersedia dan tunduk menyembah. Ketika menunduk, Batara Guru mencabut rambut dan cambang raksasa hingga kepalanya mendongak dan mulutnya menganga. Segera kedua taringnya dipatahkan dan lidahnya ditusuk hingga menyemburkan semua bisanya, lalu raksasa itu jatuh bersimpuh tak berdaya.

Taring dan bisa dilebur jadi suatu senjata yang dari taring kiri dinamai keris Pulunggeni, yang berarti api terberkati, sisanya menjadi mata anak panah Pasopati; dan dari taring kanan menjadi keris Kalanadah, yang berarti makanan Kala, sisanya menjadi mata anak panah Kunta.

Lalu Batara Guru memberi nama raksasa itu Batara Kala dan menyuruh tinggal di Nusakambangan serta untuk makan boleh memangsa titah sukerta yang belum diruwat, dengan menggelar lakon Amurwakala seperti diteladankan Batara Wisnu waktu turun ke bumi menjadi Dalang Kandabuwana.

Titah sukerta: anak tunggal, dua anak jenis kelamin sama, tiga anak yang anak keduanya beda kelamin, empat juga lima anak jenis kelamin sama, serta bila melakukan hal tabu seperti masak nasi dandang goling, mendirikan kuda-kuda rubuh.

Batara Kala pernah turun ke bumi menjadi Patih Siwandakara di bawah Prabu Balya (Batara Siwah) raja Medang-siwanda namun kalah perang dengan Prabu Budawaka (Batara Brama). Kemudian Siwandakara membangun kerajaan sendiri bernama Medang-kamulan-baru ia bergelar Prabu Bairawa, namun karena kemurkaannya juga kalah melawan tiga kerajaan Mendang yang bersekutu.

Setelah menikah dengan Batari Kali, Batara Kala membangun Pasetran Ganda-mayit menjadi Khayangan Selo-mangumpeng punya lima anak: Kalayuwana, Kalagutama, Siwahjaya, Batarii Kilayuwati dan Kartineya. Batari Kali mengganti posisi Batari Durga (Gedeng Permoni) yang kembali ke khayangan setelah diruwat Sadewa.

Selain titah sukerta, setelah perang Baratayuda, Batara Kala setiap malam memperlihatkan diri pada orang Dwarawati dan Mandura menyirnakan bangsa Wresni dan Yadu hingga klan Yadawa tumpas tanpa sisa, wilayahnya tenggelam. Pada jaman wayang madya, Batara Kala menjadi Prabu Yaksadewa raja Negara Selahuma membunuh Anoman secara sampyuh, mati bersama.

Nah Tokoh Batara Kala ini sangat terkenal hampir setiap lakon ada campur tangan Batara Kala maupun Batari Durga atau Batari Kali yang menjadi sumber permasalahan atau menimbulkan goro-goro.

Maka kita bisa belajar dari tokoh- tokoh wayang yang menggambarkan watak dan kehidupan manusia yang ada sekarang ini. Dari cerita wayang ini digambarkan bahwa kejahatan selalu ada berdampingan dengan kebaikan. Seperti sekeping uang logam atau koin yang terdiri dari dua sisi yang menyatu letaknya hanya wujudnya berkebalikan. Demikian juga manusia hidup ada sisi baiknya sekaligus ada juga sisi buruknya. Maka marilah terus belajar menuju lebih baik lagi yang berujung pada Kesempurnaan abadi.

Salam sehat dan tetap semangat dalam situasi apapun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.