SH SIS &SANG MULAT
Seni

SH SIS & SANG MULAT

11. SH SIS & SANG MULAT disusun oleh ST.Wid

Belajar dari kisah Sang Kabil, kakak sulung SH Sis, Sang Pangeran menambah tujuh ketentuan baru dari tiga ketentuan yang pernah diberikan pada SH A Dum.

Tiga ketentuan lama, Akulah Pangeran, Sang Dum Adi, Pencipta dan Pemilik kalian:

Jangan menyembah yang lain selain padaku dan cintailah aku lebih dari segalanya;

jangan menyebut namaku tidak dengan hormat;

tunjukkan hormat baktimu dengan menjalani perintahku. (Lihat miniseri 08).

Tujuh ketentuan baru: Hormati orang tuamu; jangan membunuh; jangan berzina; jangan mencuri; jangan menyebar kabar bohong; jangan mengingini pasangan sesamamu; dan jangan mengingini milik sesama.

Dengan pesan tambahan, melanggar salah satu saja sudah memutuskan hubungan dengan Pangeran apalagi melanggar beberapa atau malah semua maka sudah pasti tidak akan terampuni serta pasti mendapatkan siksa kekal, kesengsaraan abadi.

Ketika SH Sis mulai dewasa, Sang Pangeran mencipta Sukma Luhur lain menjadi bidadari perempuan dinamai Sang Mulat, dijodohkan dengan SH Sis dan menyarankan agar mereka mandiri membuat tempat tinggal sendiri.

Mereka segera pamit dan mohon doa restu orang tua, A Dum dan Kawa. Lalu pergi ke arah selatan menjauhi Mabumijo belajar dari kisah kakak-kakak mereka, untuk menghindari bentrok dengan anggota keluarga lain, keturunan A Dum dan Kawa.

Setelah menemukan tempat yang dirasa cocok dan nyaman di lembah subur tepi sungai, mereka segera membangun tempat tinggal berupa bangunan dari kayu yang disebut Kathmandu, setelah berkembang kelak disebut khayangan Nepala.

SH Sis sebagai titah ciptaan langsung Pangeran Sang Dum Adi masih dilindungi sifat-sifat baik dan tidak tercemari emosi nafsu keakuan. Namun yang namanya Ngajijil tentu tidak kurang akal mengincar titah kediaman Wahyu Makhluk Terpilih untuk dijadikan pengikutnya.

Karena tidak mampu menggoyahkan SH Sis dengan godaan duniawi, akhirnya timbul akal licik lainnya. Segera Ngajijil menyembunyikan Sang Mulat asli dalam pengaruh sihirnya lalu mengganti dengan Mulat palsu jelmaan dari Dlajah anak Kabil. Setelah SH Sis bersetubuh dengan Mulat palsu maka lalu Dlajah dikembalikan Ngajijil ke Bumikaca dan Sang Mulat asli ditampakkan kembali.

Ketika waktunya tiba, Mulat melahirkan dua putera, yang berparas manusia tampan diberi nama Ne dan yang berupa cahaya diberi nama Nur. Dlajah di Bumikaca juga melahirkan hanya berupa darah dan air berwujud bayi. Ngajijil segera membawa ragangan bayi Dlajah ke Nepala disatukan dengan bayi cahaya Nur sehingga berubah menjadi bayi bercahaya yang tidak bisa diraba karena tidak memiliki raga jasmani.

Ne menjadi ahli agama yang juga menjadi leluhur manusia di lembah Pegunungan Putih serta kelak memperluas khayangan Nepala menjadi kerajaan Newari hingga di sepanjang sungai yang disebutnya Hindus.

Nur sebagai bayi bertubuh rohani seperti para Sukma, bercahaya namun tidak bisa diraba senang bertapa, seluruh gunung di Pegunungan Putih menjadi tempat pertapaannya.

NB: Dalam versi sastra tulis banyak yang menyebut Ne sebagai Nasa dan Nur sebagai Nara. Bahkan dalam sastra yang terpengaruh agama menyebut Ne sebagai Anwas dan Nur sebagai Anwar.

Nah sahabat-sahabatku yang masih penasaran dengan cerita wayang purwa , pingin tahu ceritanya jangan lupa minggu depan ya

Tetap semangat dan percaya dimasa pandemi ini kita semua bisa melewatinya dengan baik. Masih tetap pakai masker , cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak ya

Salam sehat selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.