Sekuel 5 MAHADWIPA
Seni

Sekuel 5 MAHADWIPA

Sekuel 5 MAHADWIPA

disusun oleh St. Wid

Kisah MAHABARATA berada di era ini. Inilah cerita perang dunia terhebat yang berupa perang suci ‘menegakkan kebenaran’ antara dua kerabat Pandawa dan Kurawa beserta pendukungnya di dataran tinggi MAHADWIPA di sisi selatan MAHAPADA. Perang yang diakhiri musnahnya keturunan Yadawa ditenggelamkan menjadi Laut Jawa. Di dunia masakini, ditemukannya aneka situs pertanian teratur (bukan karya alam) kemungkinan berasal di era ini yang banyak kerajaan manusia berkembang dan besar yang tentu hanya bisa bila didukung pertanian teratur sebagai penyokong pangan penduduknya yang manusia, walau masih bersanding dengan denawa yang diperkirakan pemungut hasil alam.

NB: Perlu diketahui pada era MAHADWIPA ini para titah utama masih memiliki sampai dengan 40% kekuatan pikir Karunia Pangeran SH Dum Adi.

Sebelum membahas Hastina terlebih dulu kenali negara-negara sekutu seperti Mandura, Mandaraka, Plasajenar, Pancala, Dwarawati, Kumbina, dan Lesanpura agar diketahui memihak kubu Kurawa atau Pandawa dan apa alasannya.

Sudah sejak lama Hastina punya sahabat Mandura negara asal Dewi Kunthi juga Mandaraka negara asal Dewi Madrim keduanya istri Prabu Pandudewanata serta  Plasajenar negara asal Dewi Gendari istri Raden Drestarasta, jadi tentusaja negara tersebut adalah keluarga dari Hastina. Terlebih Mandaraka dimana tiga putri Prabu Salya: si sulung Dewi Erawati menjadi istri Prabu Baladewa raja Mandura, Dewi Surtikanti menjadi istri Adipati Karna senapati Hastina, dan si bungsu Dewi Banowati menjadi istri Prabu Doryudana raja Hastina. Secara praktis tidak ada negara taklukan maupun negara sahabat yang diperoleh sendiri oleh Prabu Doryudana, semua warisan para leluhur sebelumnya namun semuanya merupakan negara besar.

Tiga negara berikut ini tidak bisa terpisah dari tokoh Prabu Kresna raja Dwarawati, punya istri Dewi Rukmini berasal dari Kumbina, serta Dewi Satyaboma (kakak Satyaki) berasal dari Lesanpura. Selain dari ketiga negara tersebut ada negara Pancala asal dari Dewi Drupadi istri Puntadewa ibu Pancawala. Wrekodara beristri: Dewi Nagagini ibu Antareja dari Sapta Pretala, Dewi Arimbi ibu Gatotkaca dari Pringgondani, Dewi Urangayu ibu Antasen dari Dasar Samodra (versi Jogja), serta versi Banyumas ada Dewi Rekathawati ibu Srenggini dan Dewi Sri Gianti ibu Pancasena. Sekutu dari para istri Harjuna lebih banyak lagi. Belum ditambah dengan banyak negara lain taklukan satria Pendawa dan putra Pandawa serta kerabat terpenting leluhur Pendawa negara Wiratha.

Baru sesudah itu disajikan riwayat Barata leluhur Korawa dan Pendawa serta sejarah Hastina mulai sejak Bremani putra Batara Brahma (di masa inilah timbulnya Gareng dan Petruk) hingga perang besar Baratayudha.

Leluhur Hastina adalah para resi unggul lahir dan batin yang mesanggrah di padepokan Saptarengga di gunung Ratawu sejak Resi Parikenan (putra Bremani) > Manumayasa > Sekutrem > Sakri > Parasara hingga Abiyasa.

Di Sekuel 5 MAHADWIPA ini Parasara menyembuhkan Rara Amis jadi Dewi Durgandini lalu memperistrinya serta membangun hutan Kuru Jenggala menjadi kerajaan dan meraja bergelar Prabu Dipakiswara. Suatu ketika berselisih dengan Prabu Sentanu raja Hastina karena masalah anak (Abiyasa bertengkar dengan Dewabrata). Perkelahian yang seimbang berlarut-larut membuat dewa turun tangan. Prabu Dipakiswara bersama Abiyasa diminta kembali bertapa di Saptarengga, sementara negara Kuru Jenggala beserta ibu Abiyasa, Dewi Satyawati (Durgandini) ditrimankan / diserahkan ke Prabu Sentanu yang sudah lama menduda ditinggalkan Dewi Gangga ibu Dewabrata. Sehingga negara kecil Astina menjelma besar menjadi Astinapura.

Entah mengapa, dua putra Prabu Sentanu dan Dewi Durgandini tidak berusia panjang. Janda yang ditinggalkan ‘terpaksa’ dikawinkan dengan Abiyasa (putra Durgandini dengan Parasara) karena Dewabrata (putra Sentanu dengan Gangga) tidak bersedia sebab terikat sumpah wadat atau tidak  menikah seumur hidup.

Abiyasa menjadi raja Astina bergelar Prabu Kresna Dwipayana menikahi Dewi Ambika berputra Drestarastra dan Dewi Ambalika berputra Pandu serta Datri (dayang pengganti Ambika) berputra Widura.

Setelah dewasa Pandu menjadi raja bergelar Prabu Pandudewanata karena sang kakak terlahir buta. Namun Prabu Pandu kena kutuk sehingga wafat muda. Karena Pandawa masih anak-anak maka tahta dititipkan ke Drestarasta. Sayangnya ketika dewasa malah tahta diberikan kepada Duryudana si sulung Korawa putra-putra Drestarastra, inilah awal sengketa Astinapura dibumbui berbagai peristiwa akal licik sang paman Arya Suman (adik Dewi Gendari ibu Korawa) yang kelak menjadi patih Sengkuni, patihnya Prabu Duryudana.

Kisah perang 18 hari Baratayudha disajikan secara lengkap di episode 58F s/d Z

NB: Baru di sekuel ini punakawan lengkap Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

Setyo Widodo

Nah Setelah membaca Sekuel 5 MAHADWIPA ini, kita akan lanjutkan Sekuel berikutnya di hari Jumat depan ya

Tetap semangat Salam SEROJA Sehat Rohani dan Jasmani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.