SH ANTAGA & SH SARAWITA
Seni

SH ANTAGA & SH SARAWITA

16. SH ANTAGA & SH SARAWITA

Tidak banyak yang bisa dikisahkan dari SH Antaga atau SH Puguh tinggal di khayangan Sabaluri. Pada masa mudanya Antaga bersama Ismaya mendampingi Manikmaya menjadi penguasa sementara khayangan Awang-awang Kumitir yang ditinggal ayahandanya SH Tunggal bertapa di dunia jin, Sunyaruri.

SH ANTAGA

Karena termakan kabar bohong Manikmaya berani menyerang kakak tiri SH Rudra / Dewa Esa hingga tewas. Untung saja Antaga dan Ismaya tidak dianggap salah sehingga tidak menerima kutuk SH Tunggal seperti Manikmaya, lihat miniseri 18.

Sebagai hukuman mereka bertiga berlomba ikut sayembara dewata menelan dan memuntahkan Gunung Jamurdipa.

Sebagai yang tertua Antaga mencoba terebih dulu namun malah merobek mulutnya hingga mulutnya ndower giginya rontok dan walau sudah mengejan hingga tubuhnya membulat namun tetap tidak mampu menelan Gunung Jamurdipa.

Walau tidak diceritakan dalam Kisah Antigo, Sarawito (lahir dari kulit ari telur Antigo) juga ikut, sayangnya ia menelan gunung yang kebetulan sedang aktif, belum sempat ditelan baru masuk mulut langsung dimuntahkan, akibatnya seluruh tubuh rusak bopeng-bopeng karena lahar yang masuk tenggorokannya.

Selanjutnya giliran Ismaya, ia bisa menelan Gunung Jamurdipa namun tidak bisa memuntahkan kembali karena tersangkut giginya yang taring semua. Hingga perutnya membesar menampung gunung tapi tak bisa mengeluarkannya, namun hal ini juga menjadi pusaka Ismaya jika sudah kentut yang keluar asap gunung berapi, Wedus Gembel.

Tinggal Manikmaya yang tak bisa ikut sayembara karena gunungnya sudah tiada, maka dianggap Manikmaya pemenang sayembara pantas menjadi dewa penguasa.

SH ANTAGA berubah menjadi TOGOG

SH Antaga alias Catugora juga Wijamantri (ada yang menyebut Tejamantri) akhirnya dengan raga yang sudah berbeda dari asalnya lalu disebut sebagai TOGOG. Yang kelak bersama sang adik SH Sarawita yang jadi BILUNG menjadi punakawan pihak jahat namun mereka tidak ikut jahat bahkan selalu menasehati majikannya agar tetap berada di jalan yang benar namun tidak pernah ditaati.

Cerita Togog dan Bilung pada wayang jawa memang selalu bisa ditebak, menjadi tempat bertanya namun nasehat-nasehatnya tidak dipatuhi sehingga Togog dan Bilung selalu berpindah majikan setelah majikan sebelumnya mati.

TOGOG dan BILUNG

Pada pedalangan Jawa versi Banyumas ada cara lain penampilan Togog yang setiap ditanya masalalu seorang tokoh mantan majikannya dahulu selalu bilang lupa. Entah apa maksudnya namun Bilung sang adik selalu menyarankan sang majikannya agar sang kakak diberi minuman agar mabuk supaya bisa bercerita.

Nah akhirnya agak cetha ya dari cerita diatas SH ANTAGA & SH SARAWITA kita tahu asal usul Togog dan Bilung yang selama ini terkenal dengan canda tawanya di pewayangan.

Tetap semangat dan tetap memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun, dan hindari kerumunan masa, semoga sehat selalu. Tunggu kelanjutan cerita Wayang Purwa ini di episode selanjutnya ya

Hari Komunikasi Sedunia ke 55 dengan tema “Datang dan Lihatlah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.