SH NURRASA & SANG SARWATI
Seni

SH NURRASA & SANG SARWATI

13. SH NURRASA & SANG SARWATI.

Setelah dewasa Nurrasa diberi minum dan dimandikan dengan Tirta Kamandanu sehingga kelak hidup abadi. Kemudian berbagai ilmu kesaktian SH Nurcahya diturunkan pada Nurrasa lalu juga diwarisi pusaka: cincin Retna Dumilah, akar Oyot Pulasara, dan tentusaja Cupu Manik Astagia yang berisi Tirta Kamandanu.

Mirip ayahandanya, Nurrasa juga gemar bertapa hingga meninggalkan khayangan Dewani diawasi dari jauh oleh Amir patih ayahadanya SH Nurcahya. Nurrasa berkelana hingga Pulau Darma dan berselisih dengan patih jin setempat bernama Parwata.

Terjadi perkelahian yang segera dilerai Patih Amir yang menjelaskan bahwa Nurrasa adalah cucu Prabu Nurhadi sedang Patih Parwata adalah adik Prabu Nurhadi, dengan sangat gembira ternyata yang dapat mengalahkan dia adalah cucu keponakannya sendiri, segera mereka diboyong ke kerajaan Pulau Darma.

Prabu Rawangin raja jin Pulau Darma adalah adik Prabu Nurhadi, adik Patih Amir, juga adik Patih Parwata juga gembira menerima cucu keponakan. Ia bercerita bahwa putrinya Sang Rawati bemimpi bahwa jodohnya sudah dekat dan masih cucu SH Sis. Mendengar lamaran tidak langsung, atas nasehat Patih Amir, Nurrasa menerima Sang Rawati menjadi istinya.

SH Nurrasa menikah dengan Dewi Sarwati atau Rawati putri raja jin Prabu Rawangin  (adik Prabu Nurradi) di Pulau Darma setelah cukup lalu memboyong istrinya sowan orang tua SH Nurcahya ke Pulau Dewa diterima dengan sukacita dan diwisuda sebagai penerus SH Nurcahya. Setelah mewariskan semuanya SH Nurcahya mukswa bersatu dengan puteranya yang seketika itu juga menjadi ‘Sang Hyang’ Nurrasa karena Wahyu Titah Pilihan ikut menyatu di tubuh baru SH Nurrasa.

Selanjutnya SH Nurrasa mengubah khayangan Dewani menjadi Malwadewa memiliki dua putera yang terlahir Sotan (hanya terdengar suara samar-samar tanpa wujud).

SH Nurrasa melalui daya ciptanya masuk ke alam gaib bisa melihat wujut para puteranya. Suara lebih keras berada di depan dan suara lirih di belakang. Setelah semua disiram Tirta Kamandanu, putera yang bersuara lirih ditetapkan sebagai sang kakak diberi nama Darmajaka dan yang bersuara keras menjadi adiknya diberi nama Wenang.

Beberapa tahun kemudian Dewi Sarwati melahirkan seorang putera lagi berwujud akyan (roh halus) sebangsa jin yang diberi nama Taya.

Suatu ketika rombongan jin dipimpin Prabu Ari menyerang Malwadewa. Kedatangannya disambut baik-baik oleh SH Nurrasa yang sudah tahu maksud kedatangan mereka. Untuk hal tersebut SH Nurrasa menyerahkan kepada ketiga puteranya.

Prabu Ari berhadapan dengan Wenang yang walau baru bertemu Wenang bisa menebak asal-usul Prabu Ari, yaitu putra Jin Saraba, keponakan Patih Amir, keponakan Prabu Nurhadi, keponakan Patih Parwata, keponakan Prabu Rawangin. Sebelum mereka ada Prabu Palija raja Keling yang menyerahkan kerajaan pada puteranya Prabu Sangadik yang kemudian menjadi patih sang menantu Prabu Ari.

Marah karena ditebak Prabu Ari menyerang Wenang namun kalah, begitu juga Prabu Sikanda dikalahkan Darmajaka, dan patih Sangadik dikalahkan Taya.

SH Nurrasa senang dengan kemenangan puteranya namun tetap rendah hati, bukan merendahkan musuh malah melamar putri sang musuh. Mengetahui hal itu tentu saja Prabu Ari dan Prabu Sikanda merasa gembira berbesar hati menerima.

Maka diadakan pernikahan bersama Darmajaka dengan Sang Sikandi putri Prabu Sikanda sekaligus menjadi raja di Keling yang kelak disebut Imamaya dan Wenang dengan Sang Saoti putri Prabu Ari sebenarnya juga Pulau Darma diserahkan namun dilimpahkan lagi untuk keturunan Wenang kelak karena saat itu juga Wenang menjadi raja khayangan Malwadewa di Pulau Dewa.

Darmajaka mempunyai ciri khas mukanya tenang sekali maka sering juga disebut Wening (pakai ‘w’ bukan Ening). SH Darmajaka Wening kelak berdiam di khayangan Imamaya, menikah dengan Sang Sikandi (tanpa ‘r’ bukan Srikandi) putri Prabu Sikanda dari kerajaan Selakandi, punya lima anak: Sang D[ar/re]mani, SH D[ar/re]mana, SH Triyatra (punya putri Sang Barawati istri Prabu Banaputra nenek kakek Ramawijaya), SH Caturkanaka (punya lima putera: Batara Kanekaputra atau Batara Narada, Batara Pritajala, Batari Tiksnawati, Batara Caturwarna, Batara Caturboja), dan SH Pancaresi kakek mertua para dewa (punya enam putera: Batara Guruweruna tiga putri, Batara Pancawedha tiga putri, Batara Wismaka dua putri, Resi Satya satu putri, Resi Janaka satu putri, dan Resi Soma dua putri).

SH Wenang punya tiga anak: SH Tunggal, SH Ening, dan Sang Yati, lihat miniseri 14.

SH Taya (Pramanawisesa) punya empat putra yang sulung bernama SH Parma punya putra SH Pramana. Sang Tappi putri SH Pamana menikah dengan raja jin SH Darampalan melahirkan burung Batara Winata, musang Batara Agli, garangan Batara Karpa, dan sapi Batara Kowara.

Aduh banyak banget nama-nama baru ya di episide SH NURRASA & SANG SARWATI ini, gak papa kalau lupa bisa dibaca kembali kelak. Nah tetap semangat mengikuti wayang purwa lanjutannya.

Tetap dirumah membaca dan beraktifitas yang berguna bagi keluarga dan sesama.

Tetap gembira dimasa Pandemi supaya imun tetap baik.

Salam sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.