Panakawan

Panakawan

Panakawan

Sering kita mendengar orang menyebut kata Panakawan yang secara umum mengartikan sebagai pendamping para satria yang biasanya dari kelompok satria yang baik kelakuan atau sikap hidupnya. Satria yang didampinginya atau dimomongnya adalah dari keturunan orang baik. Maka dari perjalanan hidup yang penuh liku-liku saat senang dan susah dilalui bersama Panakawan ini. Panakawan terdiri dari 4 orang, mereka menghibur memberi semangat dan membantu menyelesaikan masalah tuannya. Mereka setia mengabdi tuannya.

Panakawan, pana berarti paham, mengerti, sedangkan kawan berarti teman, sahabat. Makna harafiahnya; teman yang memahami. Mereka selalu berusaha memahami bendaranya atau tuannya. Mereka ikut senang jika tuannya senang atau berhasil, jika tuannya menderita mereka ikut sedih dan berusaha menghibur dan menguatkan hatinya untuk bisa menyelesaikan masalah.

Dalam pentas pedalangan, kemunculan panakawan selalu dinanti-nanti, karena di situ ada lawakan, candaan, senda gurau, _guyon parikena_ yang menghibur, mencairkan situasi.
Kemunculan para panakawan populer disebut “gara-gara,” walau sesungguhnya salah kaprah, karena arti gara-gara adalah huru-hara. Kemunculan Semar dan anak-anaknya justru meredam gara-gara, _sireping gara-gara._

Panakawan merupakan representasi dari _kawula alit_ – rakyat kecil yang dilibatkan dan terlibat dalam aktivitas tuannya, atau dalam skala yang lebih luas adalah negara. Dalam penyelenggaraan negara, kawula alit tidak bisa ditinggalkan. Harus sinergis antara pemerintah dan rakyatnya, _manunggaling kawula gusti._

Panakawan dari para satria tama ialah: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

*Semar,* Semar dan silsilahnya telah ditulis sebelumnya. Ini sebagai tambahan; Semar dalam setiap dialognya selalu diawali dengan ungkapan yang seolah tanpa arti. yakni: ” _mbegegrek, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak-dulita, heeeii…,_ ” namun mempunyai makna yang mendalam. Mbegegreg artinya diam, ugeg-ugeg artinya menggeliat, hmel-hmel artinya berusaha, sak-dulita artinya sedikit. Maknanya; manusia tidak hanya diam saja, harus menggeliat berusaha, walau hasilnya sedikit harus disyukuri.
Semar juga selalu mendongak ke atas dan tangan kanannya juga selalu menunjuk ke atas, maknanya; agar manusia selalu ingat kepada Yang Di Atas, Tuhan.

*Gareng,* Gareng adalah anak angkat Semar yang tertua.
Gareng, nama panjangnya adalah Nala Gareng, artinya hati yang kering, sifat yang _nrima_ – apa adanya, tidak mempunyai ambisi pribadi yang berlebihan.
Gareng juga disebut Pancalpamor artinya menolak hal yang glamor, tidak suka kemewahan, hidup sederhana.
Gareng juga disebut Pegatwaja, arti harafiahnya menolak gigi, maknanya; tidak memanjakan mulut, makan seadanya, berani prihatin.

_Bersambung ……_

Hikmahnya; hidup harus selalu berusaha, apapun hasilnya hendaknya selalu bersyukur.
Hidup sederhana, nrima apa adanya bukan berarti tidak mau maju dan berkembang, namun mensyukuri apa yang ada padanya

Leave a Reply