Kumingsun ????

Kumingsun

Kumingsun Berwatak sok serba ingsun – serba aku.

Yuk belajar bahasa Jawa

” *Kumingsun* ”

Berwatak sok serba ingsun – serba aku.

Menganggap dirinya serba lebih dari orang lain, merasa dirinya orang penting, orang terhormat, semua hal dipandang dari sudut “aku” – _ingsun._
Yang selalu terucap kata-kata; “Aku kok.”

Banyak orang tidak merasa bahwa dengan kalimat yang terucap sudah meninggikan diri sendiri dalam berbicara, padahal jika kita merenung sejenakĀ  barulah menyadari apa yang barusan diomongkan. Pada dasarnya orang pingin dipuji dalam segala hal, untuk itu orang sering lupa jika tidak ada yang memuji maka ya mempropagandakan apa yang sudah dilakukan dengan begitu berharap orang memuji dirinya. Bagi sebagian besar orang yang banyak belajar berkomunikasi ,mengolah rasa dan hati tentunya hal tersebut sangat dapat dirasakan dan sebagian bisa memaklumi tapi banyak juga yang tidak suka lalu menghindar atau bahkan menjauhi atau menganggap rendah. Beberapa contoh yang sering terjadi dalam pergaulan seperti:

Kumingsun; acara kemarin memang sukses, tetapi itu semua karena *aku* yang punya ide.
Kumingsun; pembangunan pos ronda akhirnya terwujud dan bagus, itu sebagian besar dananya dari *aku* lho.
Kumingsun; orang kampung ini hanya belum tahu saja kalau *aku* masih trah dari Ngarsa Dalem.
Kumingsun; aku tidak sombong lho, *aku* hanya mengatakan yang sebenarnya bahwa *aku* teman seangkatan dengan mantan presiden itu di Lemhanas.
Kumingsun; arsitek tugu monas itu ternyata kakeknya teman *aku.*
Kumingsun; reuni kemarin kalau bukan *aku* yang menghubungi kesana kemari, tidak pernah akan terlaksana.
Kumingsun; kelompok senam ini, jika tidak ada *aku* pasti sudah bubar sejak dulu.
Kumingsun; *aku* tidak mau kalau disuruh minta maaf, *aku* kan tidak bersalah.
Kumingsun; *aku* tidak mau menegur lebih dahulu, gengsi dong!
Kumingsun; mosok *aku* yang datang ke rumahnya, dia yang mesti menghadap *aku.*
Kumingsun; mereka yang butuh *aku,* bukan *aku* yang membutuhkan mereka.
Kumingsun; kalau tidak ada *aku* kok mesti tidak ada yang beres.
Kumingsun; untung ada *aku,* coba kalau tidak ada, apa jadinya.
Kumingsun; *aku* mengatakan semua itu bukan untuk menyombongkan diri, hanya, agar saudara sekalian mengetahui siapa *aku* dan apa yang telah *aku* perbuat untuk kalian.
Dan sebagainya.

Ngendikane Simbah: ” _*Tansah njunjung awake dhewe iku, sejatine malah ngasorake dhiri pribadhine.*_ ”

??????

Leave a Reply